ASUS VivoBook Pro F570, Membuka Lembaran Sejarah Baru



Asus VivoBook Pro F570 (https://www.asus.com/id/News/4RxxRDeQnEQoJrVf)


Oleh: Moh. Roychan Fajar

Dalam dunia teknologi, tentu nyaris tak ada orang yang berani menyangkal bahwa produk-produk Asus selama ini memang selalu berhasil menciptakan kejutan-kejutan yang tak pernah kita kira sebelumnya. Selama sekitar 30 tahun perusahaan ini berdiri, ia berhasil memanjakan kebutuhan kita selama ini. Inilah yang sampai detik ini membuatnya tetap berpijar terang, semakin tinggi menjulang, semakin ternama, dalam kancah dunia teknologi Indonesia dan internasional. Sehingga tidaklah heran bila sampai detik ini berhasil meraih sejimbun prestasi-prestasi mewah, misalkan: peraih 10 penghargaan pada ajang IF Design Award 2012, Produk terpilih pada Event tahunan CES 2013 Honoree, peraih lebih dari 721 penghargaan di seluruh dunia untuk produk Zenfone di tahun 2014, dan yang terbaru, dua tahun yang lalu, pada tahun 2016, Asus memenangkan 4.511 penghargaan dari organisasi teknologi terpandang dan media IT se-dunia.

Deretan prestasi di atas tentu tidak membuatnya sombong, puas, apalagi meratapi gemilang serta harumnya masa lalu. Justru dari prestasi-prestasi tersebut kini Asus Indonesia semakin produktif berinovasi. Tak disangka, sebulan yang lalu, tepatnya Kamis, 14 Februari 2019 M., Asus Indonesia merilis produk laptop terbarunya, yakni: Asus VivoBook Pro F570. Produk terbaru Asus kali ini benar-benar membuat geger dunia teknologi tanah air. Terutama bagi para penggemar produk Asus. Betapa tidak, laptop VivoBook Pro F570 ini adalah satu-satunya laptop di Indonesia yang memiliki kapasitas dan performa yang paling menawan, karena di laptop yang baru kemarin rilis ini, Asus berhasil mengombinasikan dua hal yang selama ini tak pernah bersatu dalam satu produk, yakni: prosesor AMD Ryzen dengan GPU Nvidia.

Perpaduan keduanya tersebut, tentu menjadi trobosan baru dalam dunia teknologi hari ini, khususnya bagi seluruh masyarakat pengguna laptop. Atas perpaduan prosesor AMD Ryzen dan grafis Nvidia GeForce GTX 1050 ini,laptop yang kini bisa dipesan saat ini juga itu, tentu kini menjadi idaman banyak orang. Mengapa? Karena atas keunikannya tersebut, laptop ini memiliki “Amazing Performance” (performa yang sangat luar biasa). Jadi, kombinasi prosesor AMD Ryzen Mobile, dan grafis Nvidia GeForce GTX 1050, menjadikan laptop ini bekerja sangat efektif, dan sangat mendukung untuk para pengguna yang produktif bekerja sehari-hari, misalkan untuk pembuatan-pembuatan konten, designer, penulis, periset, dst.Ditambah kecepatan penyimpanan yang sangat tinggi, yakni SSD M.2 SATA3 berkapasitas 256 GB, tentu membuat laptop ini semakin strategis untuk dimiliki.

Sebenarnya ada dua versi untuk laptop VivoBook Pro F570 yang baru dirilis oleh Asus itu, yakni: versi AMD Ryzen 7 dan versi AMD Ryzen 5. Kalau versi pertama dilengkapi oleh harddisk berkapasitas ekstra 1 TB 5400 rpm, sementara versi kedua hanya dilengkapi oleh harddisk 1 TB, akan tetapi pengguna bisa memodifikasi, dengan menambahkan SSD M2 jika dibutuhkan.

Namun terlepas dari perbedaan dua versi di atas, pada intinya, laptop tersebut sama-sama dilengkapi dengan inovasi teknologi yang canggih. Dari itulah, sangat cocok sekali untuk orang-orang yang nyaris setiap harinya, di setiap aktivitasnya, memang tak pernah lepas dengan laptop. Misalkan seperti saya, sebagai penulis, hampir setiap hari dan malam nyaris tak ada posisi favorit kecuali posisi duduk sambil merenung, sembari memanjakan jari-jari menari di atas keyboard laptop. Nah, dalam keadaan ini tentu performa dan kualitas laptop, seperti VivoBook Pro F570, menjadi sangat signifikan untuk dimiliki. Apalagi di laptop ini juga dilengkapi dengan fitur backlit pada keyboard, jadi sangat cocok untuk kerja-kerja ngetik. Karena dengan adanya fitur ini, kendanti gelap pun, pengguna tetap bisa ngetik.

Fitur backlit keyboard Asus VivoBook Pro F570
(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3gvKezKFkmt6qseF__vpEmA29gjVljUWtXm77yjxo8AbFm5kmV-P5IuDMuyr1_t-UyHgFkTcbiTT_6W_yC0HUh9lBrf3l71Dg1ibfS3zax7fEm7H3Fo6dziayyQ9NboqvXZj9__FTQdE/s1600/F570-02.jpeg)

Tetapi bukan berarti laptop VivoBook Pro F570 ini hanya cocok untuk para penulis. Sebagai laptop mainstream, produk Asus ini cocok untuk siapa saja, untuk semua lapis generasi, entah dari kalangan remaja hingga kalangan dewasa, atau bahkan untuk mereka yang sedang usia lanjut. Karena mafhum kita ketahui, di era digital seperti ini, laptop sudah menjadi kebutuhan semua orang—tak pandang bulu—yang mungkin sudah tak bisa kita hindari. Sehingga memilih laptop dengan kualitas terbaik, seperti Asus VivoBook Pro F570 ini, adalah bagian dari pemilihan pola hidup yang baik pula bagi kita semua.

**

Baiklah, mari tarik nafas sebentar untuk “menyelam” lebih jauh; kira-kira, apa lagi kecanggihan laptop Asus VivoBook Pro F570 ini?!

Ya, selain “Amazing Performance”, sebagaimana yang di atas telah dijabarkan, masih ada banyak kemewahan yang bisa kita jumpai di laptop ini. Salah satunya, selain kelebihan-kelebihan dan keunikannya (sebagaimana dijelaskan) di atas, Asus VivoBook Pro F570 juga dilengkapi dengan “Audio Sonic Master ASUS X Series, Didukung oleh Prosesor”. Fitur ini adalah perpaduan langsung dari “software” dan “hardware” yang sengaja dirancang untuk menghadirkan kualitas suara laptop ini menjadi sangat baik, dengan range frekuensi yang lebih luas, vokal lebih jelas, serta bass yang lebih dalam. Perangkat Audio Sonic Master ini memang sengaja didesain agar kehadiran laptop benar-benar memuaskan untuk para penggunanya, dalam berbagai kebutuhan, seperti: main game, nonton film, dst. Maka dari itu, melalui fitur ini, para pengguna nanti tidak perlu repot-repot menyediakan “sound eksternal” bila hanya ingin menikmati musik di waktu senggang. Karena dengan Audio Sonic Master, laptop ini sudah memiliki kualitas suara yang tinggi. Pendengaran para pengguna, oleh laptop ini sungguh benar-benar dimanjakan.

Apakah hanya pendengaran pengguna yang dimanjakan? Tentu tidak.

Karena lewat layar yang berukuran 15,6 inci, yang mendukung resolusi Full HD rasio 16:9 dengan resolusi 1920 x 1080 pixel, jelas, penglihatan para pengguna nanti juga akan dimanja. Dengan monitor dan kualitas yang setinggi itu, tentu justru akan membuat pengguna semakin nyaman duduk menikmati grapic dan visualisasi laptop ini. Bahkan dari saking nikmatnya, mungkin akan kesulitan untuk beranjak jauh dari laptopnya.

Tampilan layar Asus VivoBook Pro


**

Yang lebih mengesankan, laptop Asus VivoBook Pro F570 ini juga memiliki penampilan yang memukau dan sangat kontemporer. Ia memiliki keunikan dalam casis-nya, yakini terdapat fitur teknologi “Eye Catching Look”, sebuah warna menyeluruh dengan garis biru yang mengkilap. Jadi dengan warna mengkilap di pinggir dan bagian logonya, serta dilengkapi “brush finish” untuk seluruh body laptop, membuat laptop ini tampil elegan dan membuat pengguna sangat percaya diri untuk di bawa ke mana-mana. Apalagi dengan bobot yang hanya sekitar 1.9 kilogram, menjadikannya sebagai laptop mainstream yang paling ringan di kelasnya, sehingga tidak berat untuk dibawa. Desain laptop yang seperti ini, ternyata juga membuatnya tampil tidak kaku digunakan di tempat-tempat umum, entah itu di suasana-suasana serius seperti forum-forum ilmiah, kelas perkuliahan, seminar, atau di tempat-tempat hangout sekali pun (misalkan di caffe, atau di ruang-ruang santai lainnya).

Bahkan, dalam suasana ramaipun (misalkan waktu ngopi bareng teman-teman) kita tidak perlu khawatir pada keamanan laptop. Karena ia juga sudah dilengkapi dengan “Fingerprint Sensor”. Dengan fitur ini, orang lain tak akan bisa membobol keamanan laptop, kecuali menggunakan sidik jari pemiliknya.Disini kita juga bisa melihat bagaimana komitmen Asus dalam melindungi privasi kita. Karena tidak sedikit orang-orang, termasuk saya sendiri, yang menjadikan laptop itu sebagai “rumah virtual”. Sebagai rumah, di sini laptop tentu bukan hanya berisi kebutuhan-kebutuhan kerja, tetapi juga dokumen-dokumen pribadi, rekaman masalah pribadi, yang tentu tak boleh diakses oleh sembarang orang. Maka dari itu, dengan fingerprint yang sudah di support Windows Hello membuat login laptop ini cepat dan aman. Jadi kita tak perlu khawatir soal keamanan laptop.

**

Dengan ini kita bisa mengatakan bahwa platform designer yang selama ini dikembangkan oleh Asus—khususnya untuk produk terbarunya ini—memang memiliki kepekaan yang sangat kreatif. Asus mampu melahirkan laptop yang tidak hanya keren kualitas dalamnya, tetapi juga dalam segi penampilan luarnya, sangat menawan dan elegan. Artinya laptop Asus VivoBook Pro F570 sangat relevan untuk era kita saat ini. Dengan kata lain, ia berhasil melampaui keusangan produk-produk teknologi lawas yang hari ini masih saja menyebar di pasar-pasar murahan.

Oleh karena itu, lahirnya laptop Asus VivoBook Pro F570 di tengah-tengah kita hari ini, membuka lembaran sejarah baru dalam hikayat dunia teknologi Indonesia. Jelas, itu tak bisa kita bantah. Karena Asus melalui produk terbarunya ini telah berhasil memecah satu kebuntuan dalam dunia teknologi, yang diam-diam kini berlangsung dibalik kesadaran kita, yakni: tumpulnya inovasi dan kreativitas dunia teknologi Indonesia. Atas hadirnya Asus VivoBook Pro F570, dunia teknologi Indonesia kini kembali berpijar. Asus telah berhasil menyegarkan kembali citra kreativitas teknologi Indonesia melalui produk andalannya ini. Sehingga tidak berlebihan,bila hari ini kita mengatakan bahwa Asus VivoBook Pro F570 adalah satu-satu laptop paling maju yang kini hadir tepat dihadapan kita semua.

Untuk mendapatkan produk luar biasa Asus satu ini, kini telah bisa kita beli di toko-toko laptop yang tersebar di seluruh tanah air. Bahkan bukan hanya tersedia di toko darat, kinidalam rangka memudahkan akses bagi para pembeli, kini ASUS VivoBook Pro F570 Ryzen 7 juga dijual eksklusif di JD.ID, melalui mobile site di https://m.jd.id/camp/asus-f570zd-r7591t-316210179.html. atau desktop site di https://www.jd.id/campaign/asus-f570zd-r7591t-3162.html. Jadi, bila selama ini kita masih hidup dengan laptop-laptop lawas, mari melalui ASUS VivoBook Pro F570, melakukan lopatan zaman, menuju era yang lebih modern, lebih maju, dengan produk Asus yang bulan lalu baru saja resmi dirilis ini. []

Ijtihad Melawan Hoax: Merajut(-Ulang) Nalar Politik-Etik



Moh. Roychan Fajar

Menjelang Pilpres 2019, yang akan segera berlangsung dalam hitungan bulan kedepan ini, ruang publik Indonesia kini sesak atas menyebarnya berita-berita hoax (berita bohong). Berita hoax yang kian hari terus belipat ganda di berbagai media, terutama di madia-media online itu, kini telah mengaburkan batas terang antara, jujur dan dusta, fakta dan fiksi, benar dan salah, yang sejak dulu telah tertata dengan rapi. Dari saking banyaknya berita hoax itu menyebar, banyak orang hari ini yang terkecoh dan ikut arus terhadap manipulasi informasi tersebut. Memang terasa ganjil: bagaimana mungkin mereka bisa terkecoh? Bagaimana mungkin mereka hanyut dalam kebohongan yang dilakukan dengan sengaja itu? Ya, apa pun jawabanya, inilah fakta arena politik kita saat ini.

Sekarang, kita bisa mengatakan dengan nada kecut, tanpa ragu-ragu, bahwa konstelasi politik Indonesia kini telah menghancurkan kejujuran dan kejernihan berpikir. Sebaliknya, nalar politik kita kini penuh dengan kepalsuan dan rekayasa. Penyebaran berita-berita hoax yang menjadi jurus andalan para politisi untuk mempengaruhi persepsi publik dalam menggait dukungan  publik, menjadi potren buram realitas politik kita saat ini. Sejatinya hal ini tidak hanya terjadi Indonesia. Kampanye hoax sebagai strategi politik, ini juga berlangsung dan pernah berhasil pada dua moment politik berpengaruh di dunia tahun 2016 silam, yakni: keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) serta terpilihnya Donal Trump sebagai presiden negeri “Paman Sam”.

***
Di era revolusi digital seperti saat ini, penyebaran berita hoax yang diproduksi secara masal melalui website dan media sosial, seperti: Facebook, Tweeter, WhatsApp, Instragram dan akun-akun Youtube, tentu menjadi pilihan yang strategis bagi para “prodator politik” untuk mendikte emosi dan menggait simpati publik. Karena media sosial berbasis internet tersebut, kini telah menjadi ruang baru bagi semua orang untuk beraktivitas. Seolah-olah dalam ruang maya, yang bersifat artifisial itu, menjadi ruang yang nyata. Memang, arena maya hari ini telah menjadi realitas yang—nyaris atau sudah—sejajar, atau bahkan lebih riil, dibandingkan rialitas yang sesungguhnya. Dalam istilah Baudrillard, kondisi ini disebut sebagai “Hiperrealitas”: satu istilah yang menjelaskan tentang runtuhnya realitas, yang kemudian diambil alih oleh rekayasa model-model, citra, virtualisasi, halusinasi, simulasi, yang dianggap lebih nyata dari realitas yang sebenarnya.

Dengan kata lain, di era digital ini, tak ada lagi batas yang kokoh antara yang riil dan yang ilusi. Bahkan, perkembangan digitalisasi informasi yang menggunakan media sosial sebagai jejaring penyebarannya, juga memiliki kecepatan yang lebih tinggi dan ruang yang lebih luas dibandingkan dunia nyata yang kita tempati ini. Kecanggihan perkembangan informasi digital, telah berhasil melumat ruang ke dalam pergerakan waktu yang amat padat, melalui kecepatan transmisi cahaya (fibre eptic), sehingga memungkinkan segala peristiwa yang terjadi di New York misalkan, dengan mudah kita akses secara live atau real time di mana pun kita berada.

Moment inilah, yang kemudian disebut oleh Paulo Virilio—dalam bukunya bertajuk, Open Sky (2007)—sebagai “the death of geography” (matinya geografi). Artinya, musnah sudah perbedaan-perbedaan geografis, yang selama ini kita pahami terkotak-kotak menjadi beberapa wilayah. Kini ia menjadi satu, terhimpun dalam satu ruang digital bernama internet. Sehingga wajar kemudian, penyebaran berita hoax melalui website dan media sosial oleh para politisi, akan mudah mempengaruhi atau membohongi publik secara instan. Hal itu terbukti, rupanya kian hari mendekati hari pelaksanaan Pemilu, jumlah berita hoax terus bertambah dan nampaknya sulit untuk dibendung.

Tahun lalu misalnya, Kementrian Informasi dan Komunikasi telah menyebutkan ada sekitar 62 konten hoax terkait Pemilu 2019 selama bulan Agustus hingga Desember. Dan ternyata semakin meningkat di bulan pertama tahun 2019. Dalam identifikasi lembaga yang sama, justru di bulan Januasi 2019 ada 70 konten hoax yang telah teridentifikasi.  Tentu bukan tidak mungkin angka-angka di atas ini akan terus bertambah. Kasus terakhir—yang saat ini pelakunya sudah tertangkap—yakni tentang pemalsuan tanggal pemilu, yang dulu berita-beritanya menyebar luas di jagat maya. Kita tinggal menunggu dengan sabar, kira-kira informasi atau isu apa lagi yang nanti akan dipalsukan untuk menipu publik?

***
Fenomena banjirnya berita hoax dalam dinamika politik di Indonesia ini dapat dibilang sejarah baru. Di sini kita sah bertanya: apa yang kita dapatkan dari “sejarah baru” ini? Apakah dengan berita hoax Pemilu berlangsung etis dan damai? Tidak. Justru adanya berita hoax yang mengangkat isu-isu sensitif, telah membuat republik ini ter-pecah-belah. Melalui berita hoax tersebut, banyak orang melakukan ujaran kebencian (hate speech), saling caci-maki, fitnah, untuk menjatuhkan lawan politiknya. Nalar-nalar politik semacam ini telah menggeser akal kritis kita, menjadi pikiran-pikiran gelap, yang buta realitas, yang masa bodoh dengan kebenaran faktual. Jadi di balik agenda pesta demokrasi yang sebentar lagi akan berlangsung ini, bila boleh jujur, kita juga menghadapi tragedi remuknya persaudaraan, yang sejak dulu terajut dengan sangat indah di bawah republik yang plural ini.

Tepat dalam era digital seperti saat ini, dimana berita-berita hoax dapat dibalut persis menyerupai fakta—melalui bantuan kecanggihan teknologi—dan dapat menyebar secara cepat, kita memang perlu menentukan sikap untuk melawannya. Melawan hoax pada moment politik seperti saat ini, berarti sama derajatnya dengan berjuang melenyapkan kebohongan, kepalsuan, yang seama ini telah menyebabkan kebencian dan permusuhan dalam arena politik kebangsaan kita.

Oleh karena itu, untuk merakit kembali nalar politik yang etis, yaitu politik yang melangsungkan diri melalui persaingan yang santun, bebas dari kebencian dan perpecahan, memang tak ada cara lain, kecuali dengan melawan berita-berita hoax. Perlawanan ini harus menjadi ijtihad kita bersama. Sebagai ijtihad, berarti kita harus berupaya untuk mencari cara, pendekatan, strategi, untuk menghindari atau mengatisipasi berita-berita hoax—tentang Pemilu 2019 ini—dalam merong-rong nalar politik publik. Salah satu cara yang bisa menyelamatkan publik dari berita-berita hoax, hemat penulis, bukan dengan mendukung kebijakan pemerintah untuk memblokir media yang diduga menyebarkan berita hoax, melain dengan meningkatkan basis pengetahuan kita agar dapat mem-verifikasi secara kritis informasi-informasi yang akan hendak kita baca.

Ya, bentuk perlawanan seperti ini menjadi kunci penting hari ini, agar nalar politik kita kembali etis. Sehingga, dinamika politik di antara dua kubu beserta pada para pendukungnya, yang hari ini sedang bersaing, dapat berjalan dengan sehat, penuh khidmat dan damai. Karena semua itulah yang akan menentukan masa depan Indonesia nanti. Memang rasaya sangat tidak adil, bila kerukunan umat yang sejak dulu telah tertanam, tiba-tiba hancur berantakan karena moment politik yang dikeruhkan oleh berita-berita hoax ini. Darinya, mari kita lawan bersama!

Merobek NKRI (Ber)syari’ah: Refleksi dan Kritik



Moh. Roychan Fajar

Seruan-seruan NKRI Bersyari’ah yang pertama kali melengking ke dalam pendengaran kita pasca aksi 212 tahun 2016 itu ternyata kian hari semakin menggema di mana-mana. Ya, masih segar dalam ingatan kita, setahun kemudian pada tahun 2017 lalu, saat reuni aksi 212 digelar, seruan NKRI Bersyari’ah kembali dikuatkan. Kini, tahun 2019, tepat dimana perhelatan pesta demokrasi paling akbar di bangsa ini akan digelar, seruan tersebut menjadi semakin “meriah” dan memantik banyak perhatian dari berbagai kalangan. Seruan-seruan akan hal ini, mafhum kita ketahui, senantiasa dipekikkan oleh sang imam besar FPI, Habib Rizieq. Ribuan mata menjadi saksi, saat ceramah dan orasinya di atas panggung dan disaksikan sejuta umat di Aksi 212 di Jakarta dulu, “perlunya NKRI Syari’ah” ia teriakkan dengan penuh tenaga di hadapan para jema’ahnya.

Ya, tepat dalam keadaan ini, sejumlah pihak kini mulai mempertanyakan secara kritis atas seruan yang sampai hari ini terus dikampanyekan tersebut. Kita bisa menyebut secara kikir, salah satu oranng yang kini telah mempertanyakan atas seruan Habib Rizieq itu, adalah Denny JA. Dalam tulisannya di akun Facebook-nya, yang ia unggah pada tanggal 8 Desember 2018 lalu, ia menulis satu esai dengan tajuk, “NKRI Bersyari’at atau Ruang Publik yang Manusiawi”. Dalam tulisan ini, Denny mempertanyakan relevansi gagasan NKRI Syari’ah terhadap apa yang ia sebut, “Ruang Publik yang Manusiawi.”

Bagi Denny, fardhu kita mempertanyakan gagasan di balik NKRI Syari’ah tersebut. Pasalnya, sebagaimana dalam penilaiannya, justru pancasila sebagai dasar ideologis NKRI ini sudah syar’i. Artinya, pancasila telah sesuai dengan spirit keislaman yang selama ini telah berhasil menjadi ‘payung basar’ bangsa yang plural ini. Kira-kira pertanyaannya: untuk apa kemudian ada NKRI Syari’ah? Karena tanpa embel-embel syari’ah pun, NKRI—melalui pancasila—selama ini sudah sesuai dengan nilai-nilai keislaman, yakni: nilai kemanusiaan. Dari itulah, Denny, dalam tulisannya, mengajak para bembaca dan kita semua untuk juga memikirkan apa yang sedang ia pikirkan itu. Secara gamblang ia mengajukan tanya, sembari menantang: “bagaimana sikap kita atas seruan NKRI Bersyariah?”.

Mari ambil nafas sebentar, sebelum malanjutkan dan menjawabnya.

Baiklah, sejatinya bila kita jujur, gagasan atau seruan NKRI dengan embel-embel Syari’ah ini bukan wacana baru dalam perdebatan kebangsaan kita selama ini. Dan selain Denny Ja, ada tumpukan penulis yang sejak dulu telah melahirkan teks-teks kritis yang berupa gugatan atas gagasan yang dianggap mengancam keutuhan NKRI tersebut. Sebut saja salah satunya misalkan, Gus Dur. Ia menolak tegas terhadap gagasan NKRI Bersyari’ah atau formalisme agama, yang meletakkan ajaran Islam (baca: Al-Qur’ah) sebagai ideologi politik, seperti negara-negara khilafah di Timur Tengah. Mengapa? Karena konsep negara khilafah (baca: NKRI Syari’ah), jelas berlawanan dengan konstelasi bangsa yang heterogen ini.

Yang juga tak kalah penting, di dalam gagasan NKRI Syari’ah, kita justru juga dapat menangkap satu pergeseran serius dalam paradigma keberislaman kita—yang tentu saja memprihatinkan: dari nalar yang ingkusif, moderat-kontekstual, yang sejak dulu telah berhasil mengadaptasikan Islam dalam sipirit nasionalisme, ke nalar-nalar yang sifatnya cenderung lebih eksklusif, tekstual dan normatif. Konsekuensinya, dalam bentuk pergeseran ini, semua doktrin-doktrin Islam akan menjadi beku, tertutup, dan cenderung memonopoli tafsir kebenaran. Kecenderungan memonopoli kebenaran ini akan membuat Islam tidak toleran terhadap pemahaman Islam yang lain maupun agama lain. Maka tidak heran bila model keberislaman seperti ini berorientasi terhadap pembentukan sistem negara khilafah. Islam sebagai ajaran harus resmi menjadi dasar negara. Seolah-olah, tanpa tempelan label Islam, ngara akan menjadi kafir, dzhalim dan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Pada kerangka inilah, NKRI Syari’ah akan mempersempit “ruang publik” kebangsaan kita yang selama ini telah terawat scara arif, penuh nilai-nilai toleransi, bhinika tunggal ika, dan spirit kemanusiaan. Justru dengan NKRI Syari’ah stempel-stempel identitas akan dengan membabi buta dilancarkan. Bahkan tida jarang berujung perskusi, caci maki dan teror.

Hal ini sedikit banyak sudah terjadi dalam khazanah kebangsaan kita hari ini. Terutama dalam momentum politik elektoral hari ini yang memang gemar “menjual agama” untuk kepentingan-kepentingan pragmatis. Di hadapan gagasan ini, isu-isu sentimal dan identitas dimainkan untuk untuk mendulang suara dan dukungan. Paling tidak, agenda ini telah berhasil mengantarkan Anes Baswedan sukses dalam Pilkada DKI lalu. Kini, di pentas elektoral yang lebih akbar, menuju Pilpres 2019, stempel muslim dan non-muslim, pribumi dan non-pribumi, kembali meriah dilakukan di jagat maya maupun di dunia yang nyata.

Sampai di sini, kita bisa menilai dengan bijak, di tengah bangsa yang demam populisme dan politik identitas, melalui kampanye-kampanya NKRI Syari’ah, adalah penanda bahwa demokrasi kita hari ini sedang terancam. Ruang publik kita sedang dalam kondisi darurat. Islam Indonesia yang sejak dulu telah berhasil merekatkan segala bentuk keberagaman di bumi Nusantara melalui harmoni pancasila, kini justru yang terjadi sebaliknya: Islam (itu sendiri) malah didakwahkan secara elitis, untuk mendiskreditkan identitas tertentu. Islam yang sejak dulu diajarkan secara substansial, demokratis, tersublimasi dalam segala bentuk kearifan lokal masyarakat Indonesia, kini justru disebarkan secara dangkal dan tidak beradab, dengan menganggap dirinya paling benar dan paling “Islami”.

Nah, sebagai kritik dan refleksi lebih luas, dalam konteks ini, ada baiknya kita mengulang pertanyaan Denny JA dalam tulisannya: “Yang mana yang lebih kita pentingkan? Label? Atau substansi? Label Islam atau praktek nilai Islami?”.

Denny, melalui pertanyaa ini—hemat penuls—ingin menegaskan bahwa Islam sebagai agama, tentu tidak sekedar hanya berupa ejaan nama, teks yang bisu dan label yang bebas ditempel dimana saja sesuka hati—seperti penempelan kata “syari’ah” setelah “NKRI”. Tepat di balik itu semua, Islam juga memiliki pengertian yang maha luas, substansial, yang tertuang dalam segala bentuk praktek keberagamaan umat-umatnya.

Dalam bentuknya yang terakhir inilah, Islam tak cukup sekedar dipekikkan di atas mimbar, tetapi juga harus diperas menjadi nilai universal, sehingga dapat  menaungi dan melindungi umat atas nama kemanusiaan. Keberislaman seperti inilah yang sejak dulu dirumuskan oleh founding fathers kita, yang kemudian dikembangkan secara konstitusional-ideologis, menjadi: Pancasila. Jadi, pancasila sebagai perwujuadan nilai universal doktrin Islam, adalah radilkalisasi ajaran Islam secara substansial, yang selama ini telah menciptakan ruang publik kebangsaan kita dengan penuh khidmat dan dan kebijaksanaan.

Jadi, sekali lagi, apakah kita masih perlu NKRI Syari’ah? Tidak.

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates