Kembalikan Desaku

Oleh: Moh Roychan Fajar*

            Keles, begitulah nama dari salah satu sekian banyak desa di semenanjung tanah Ambunten. Nuansa kesederhanaan yang dimilikinya menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap penduduk yang ada dalam desa tersebut. Panorama-panorama indah di sepanjang jalan menjadi nilai tawar tesendiri yang tak dapat ditukar dengan kota-koota metropolitan yang penuh dengan kebisingan dan polusi udara yang menyelimutinya. Karater penduduk yang ramah tamah dengan identitas muslim yang tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip keagamaan, membuat saya betah menjaga dan melestarikannya.
            Beberapa masjid dan mushalla-mushalla kecil, menjadi sImbol bahwa identitas kaum agamis masih tetap diperjuangkan. Dalam hal ini, saya sepakat dengan salah satu gagasan Kaum Sinisbagian dari aliran filsafat yunani kuno—bahwa kebahagiaan sejati tak terletak pada kelebihan ragawi dan kenikmatam materi: kekuasaan politik, mewahnya penampilan dan baik atau sehatnya tubuh, akan tetapi kebahagiaan sejati terletak pada ketidak tergantungan pada segala sesuatu yang acak dan “mengambang.”
            Penduduk keles selalu mempertahankan idealimenya dalam situasi apapun. Karna mereka memaknai sebuah kebahagian tak terletak pada keindahan materi atau sebuah kekuasaan. Mereka selalu berjuang dalam berperang melawan realitas zaman yang berusaha untuk membunuhnya.  
            Hilangnya Identitas
Ccerita di atas hanya sekedar kisah, yang kini tak lebih hanya sekedar romantisme sejarah agung masa lalu yang tak mampu diperjuangkan pada realitas hari ini. Perubahan paradigma penduduk menjadi awal runtuhnya nilai-nilai yang telah dipertahankan pada masa-masa sebelumnya. Dengan rasa bangga yang tidak jelas, eksistensi para penduduk; mulai dari kaum blater, pemuda, bahkan kaum sarungan pun telah kehilangan identiasnya.  
            Tak bisa dipungkiri, laju dan arus modernis tak satu pun manusia yang mampu membendungnya. Desa-desa pelosok pun tak jarang para prnduduknya telah mulai terkontaminasi oleh beberapa ideologi, budaya bahkan melalui sistem politik sekalipun. Hal demikian sangat jelas telah bergulir mesra bersama para penduduk “Desa Keles” yang tampa sadar telah mencopot identitas ke-Islaman-nya yang utuh.
              Implikasi lebih kronis lagi, adalah ketika hilangnya identitas menjadi sebuah kebanggaan, dan dinikmati sebagai sebuah keistimewaan. Jadi, tidak heran jika anak muda-anak muda banyak yang tenggelam pada rayuan gombal modernisme dengan prinsip-prinsip kemapanan. Hal serupa kini telah menjadi bagin karakter yang membuat asing pada identitas budaya madura yang mestinya di pertahankan, sebagai ruh dari setiap wilayah.
            Dr Ali Satri’ti dalam gagasannya tentang budaya, bahwa budaya merupakan gambaran dari setiap karakter penduduk dalam satu wilyah, pemahaman tentang budaya merupakan bagian dari pemahaman terdalam mengenai sebuah peradaban.
            Maka dari itu, pemandangan kontras mengenai kondisi Desa saya yang kian hari penuh dengan ciplakan memalukan dari budaya dan tradisi luar (baca: peradaban barat,) perlu langkah kongkret yang penting untuk digagas. walaupun kegelisahan ini tak dirasakan oleh semua orang, bahkan tokoh agama pun; sebagai kaum sarungan yang menjadi cerminan masyarakat dalam segala persoalan yang terjadi, “diam” dan tak bertindak sedikit pun. Entah karna tidak tahu, sengaja untu tidak tahu, atau bahkan masa bedoh dengan keadaan krusial ini.
            Kesibukan mereka hanya di isi oleh ritualisasi agama; tahlil, ngaji, dsb. Padahal, agama tidak lahir hanya sebagai seperangkat spritual ilahi.  Dalam sejarah kelahiran Islam, Karen Amstrong menulisnya dala biografi kritis tentang Muhammad Sang Nabi, bahwa kelahiran Islam di peradaban arab saat atmosfir materialisme dan kapitalisme sangat tinggi, dan Islam berhasil menghapus akan kedua ideologi besat tersebut.
            Hal demikian sebenanrnya ingin mendidik kita agar memiliki pribadi-pribadi kritis akan persoalan yang tengah bergulir di samping kita. Karna, pemahaman islam yang utuh bukan hanya percaya bahwa tuhan itu satu, tapi loyalitas tinggi pada sesama adalah bagian dari ibadah yabng tak boleh di tinggalkan dalam rangka menjaga eksistensi Islam yang Rahmatan lil ‘alamin.
            Pun demikian tak ada bedanya denga para pasukan muda, yang gila pada penampilan—busana ala modern—mereka menyabutnya. Dalam pandangan golobal, kini praktek busan telah mereduksi terhadap teminologi “busana.” Mereka meyakini Busana Modern hanya dalam bentuk memenuhi perkembanyan zaman sekaligus dalam rangka menghindar dari bahasa-bahasa katrok, kampungan dang udik. Fenomena ini mengahapus fungsi substansi busana untuk menutupi aurat.
            Busana yang mereka anggap sebagai busana Gaul, seolah hanya nama dan simbol yang melekat pada aksesoris, seperti: baju ketat, celana pencil, dan celana-celana pendek bagi kaum perempuan yang di kemas sedemikian rupa oleh kaum kapitalis melalui kampanye besar-besaran via media cetak maupun elektronik.   
            Para diktator kapitalis tersebut, berhasil me-ninabobo-kan dan memanfaatkan ketololan konsumennya demi kepentinga materi. Lebih ironis lagi, terciptanya keyakinan jika tidak mampu mengikuti trend pasar seolah-olah telah gagal menjalani kehidupan dan pergaulan dengan seorang teman.       
            Kerinduan…
            Suasana, budaya, tradisi dan karakter penduduk desa saya, kini benar-benar asing setelah hampir dua tahun saya berada di tempat yang sangat jauh—jika di tempuh melalui jalan kaki—ah, maaf sedikit bercanda. Saat pulang kampung realitas yang terjabarkan di atas sangat akrab pada aktivitas penduduk yang terlihat bangga melakukannya.
            Wilayah yang sangat identik dengan etika dan ketundukan pada agama, kini hanya menjadi sebatas apologi yang sering di katakan oleh para tokoh-tokoh agama saat mengisi ceramah-ceramah di mushalla dan mesjid. Padahal, mereka sendiri terperangkap pada dunia kepitalisme dan materialisme yang tak di sadarinya. Sehingga hal demikian berlanjut menjadi gila kekuasaan politik, budak materi dan tak pernah memikirkan apa yang terjadi pada tetangga-tetangga di sampingnya rumahnya.
            Desa yang sempat saya banggakan, benar-benar telah tercrabut dari akarnya. Semua persoalan ini, membuat saya rindu pada Desa yang tak lagi membuat saya bangga akan semua keadaan yang kini telah berubah. Saya rindu pada suasana desa yang seperti dulu, dimana para pemudanya bangga dengan pekerjaan sang Ayah sebagai petani, dan sang Ayah sebagai nelayan. Kembalikan desa saya yang sangat aku banggakan. Saya sangat merindukannya.


 *Penulis adalah penduduk desa keles,
yang tetap bangga sebagai putra sang petani.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates