Pria Cantik




Oleh: M Roychan Fajar*

            Menjadi seorang santri, cukup menarik ternyata. Kehidupan yang jauh dari kedua orang tua, mendidik pribadi-pribadi yang mandiri tanpa ketergantungan pada Ibu dan Ayah. Walaupun, entah dalam satu bulan satu kali, atau setengah bulah satu kali, kita tetap membutuhkan uang kiriman sebagai modal awal hidup di pesantren.
            Bagi orang yang telah terbiasa hidup di keramaian kota—dengan berbagai kebutuhan yang telah tersedia, dan prempuan-perempuan cantik dapat disaksikan secara gratis—tentu akan sulit untuk kerasan bila hidup di pesantren. Bayangkan, Semua santri tanpa terkecuali harus siap menahan diri untuk tutup mata pada perempuan.
            Apa boleh buat, apabila di keramaian luar sana kita berlomba untuk mendapatkan perempuan cantik, maka di pesantren kita akan berlomba untuk mendapatkan pria yang cantik. Karna tak mungkin, seorang santri akan melawan keamanan pesantren untuk menerobos masuk ke asrama putri hanya untuk menjalin cinta atau berpacaran.
            Apakah ada, pria yang cantik? Tentu ada. Namun sayang, bahasa cantik kini hanya diyakini sebagai bahasa yang mengandung konotasi sifat kelembutan dalam merespon penampilan kaum hawa. Hal demikian terjadi, karna konstruksi kesadaran kita hari ini, hanya terbangun dari bentuk kebiasaan-kebiasaan simbol yang forrmalitas. Apabila, sudah keluar dari kebiasaan akan mudah diklaim sebagai tindakan yang salah. Sejatinya, cantik adalah bahasa yang menngandung makna komprehensif. Karna bahasa cantik hanya bentuk bahasa yang dihasilkan oleh ekspresi rega tubuh manusia.
            Perempuan atau pria sama-sama memiliki hak bebas untuk menyandang rupa yang “cantik.” Cantik tidak hanya untuk wanita, namun juga untuk pria yang memenuhi kreteria kecantikan terseebut. Sehingga, di tengah culture yang memaksa semua elemen untuk mengikutinya, walhasil pria cantik akan menjadi objek incaran dalam memenuhi naluri biologis, siapapun yang menyandang identitas kecantikan, maka bersiaplah untuk menjadi incaran halayak ramai.
            Naluri Biologis
            Sex, seluruh aktifitas manusia tak akan pernah terlepas dari naluri biologis ini. Mereka selalu berusaha dengan sedemikian rupa untuk memenuhi keinginan biologisnya. Entah pada lawan jenis atau bahkan sesama jenis. Tentu tidak aneh, apabila ada seorang yang memilki naluri biologis pada sesama jenisnya.
            Dalam kondisi ini, naluri biologis ke sesama jenis adalah bagian proses tindak lanjut dari konstruksi kesadaran yang tercipta dari lingkungan yang sudah terbiasa atas kondisi seperti itu. Namu, yang penting untuk ketahuhi apakah hal demikian adalah bagian dari kebiasaan yang salah atau benar?
            Salah dan Benar
            Perbincangan mengenai salah dan benar, terkadang memang membuat kita harus mengkerutkan dahi dalam memahaminya. Banyak orang yang selalu bersibuk ria dengan pertanyaan-pertanyaan yang gusar untuk dipahami, misalkan: apakah manusia dapat dikatakan baik apabila ia mengerjakan sesuatu yang baik, atau perkerjaan yang baik karna pekerjaan tersebut dilakukan oleh orang yang baik?
            Pertanyaan diatas apabila ditarik pada persoalan naluri biologis di atas, akan sampai pada jalan bebatuan yang sangat sulit untuk dilewati—akan membuat kita pusing tujuh kelilingdalam memahaminya. Namu, mari kita coba untuk membongkar akar persoalannya. Terkadang, seorang teman hanya memiliki pemahaman yang sempit mengenai benar dan salah.
            Benar dan salah adalah bentuk bahasa yang abstrak. Dan proses abstraksi akan muncul dibalik benda kongkret yang bernilai. Cinta kepada sesama jenis, jelas itu merupakan tindakan yang keluar dari kebiasaan dan pengalaman dalam kehidupan yang bebas (Luar Pesantren). Akan tetapi, kita hidup dalam budaya dan kebiasaan yang berbeda.
            Kendati sudah banyak yang menganggap sebagai tindakan yang keliru, tapi kita harus kembali pada tujuan awal; dalam rangka memenuhi naluri biologis, karna benar dan salah hanya dapat kita ukur melalui tujuan akhir mengenai proses untuk mencapainya. Naluri adalah potensi ruhaniah yang abstrak pula, dan akan berjalan sesuai dengan realitas keebiasaan yang ia jalani.
            Naluri itu tidak salah (Baca: Insex). Karna tetap berpijak pada kebiasaan yang memang terbangun. Bahkan naluri tersebut normal. Salah, bagi orang yang menyatakan sebagai tindakan abnormal. Abnormalitas hanya bisa dinyatakan sebagai respon bagi tindakan-tindakan yang keluar dari kebiasaan.
                                                                       

Kamis, 04 Januari 2014


               

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates